
Twitter Di Amerika Digunakan Sebagai Media Belajar - Di Amerika Serikat sebuah program nasional yang berbasis di San
Francisco mendorong pelajar untuk ungkapkan reaksi mereka atas peristiwa
terkini di Twitter. Dari program ini nampak jika
microblogging tersebut makin diterima sebagai bagian dari media belajar.
Twitter dan informasi. Keduanya saling berkaitan sama sama lain.
Twitter bukan sekadar media cuap-cuap atau ‘tempat sampah’ bagi mereka
yang gemar galau. Twitter kerap jadi media penghantar
breaking news sementara media
mainstream bahkan belum memikirkan untuk menulis tajuk.
Contoh nyata sebagai bukti tengok saja pada penyerbuan Osama Bin Laden di Pakistan tahun 2011 lalu. Di saat media-media
mainstream
masih ‘terlelap’, salah satu pengguna Twitter sudah mengabarkannya ke
dunia. Nampaknya budaya ini dicoba untuk diaplikasikan di sekolah.
Para pengajar di negeri ‘Abang Sam’ mencoba untuk merengkuh media
sosial sebagai alat belajar. Twitter diyakini mampu untuk kembangkan
diskusi dan interaksi siswa. Chris Lazarski, salah satu pengajar di SMA
Wauwatosa di Kota Milaukee, AS mendorong siswanya untuk mengomentari
peristiwa-peristiwa terkini di Twitter.
Namun bukan berarti ide tersebut mendapat sambutan positif. Orangtua
khawatir jika aktivitas itu akan mempengaruhi proses belajar anak
mereka. Sebab, di kalangan anak muda media sosial masih dipandang
sebagai media ‘hiburan’ bukan informasi.
Lazarski kukuh berpendapat jika dengan pengawasan ‘ketat’ maka siswa
bisa dikontrol dengan baik. Murid bisa belajar bagaimana memanfaatkan
Twitter sebagai media riset, diskusi, dan tak hanya sekadar komunikasi.
Demikian seperti diwartakan
VOA Indonesia yang dikutip Sabtu (25/01/14).
Tatkala sebuah diskusi terbangun maka akan menimbulkan interaksi yang
luas. Ini akan berimbas pada keragaman opini. Pun juga siswa bisa
berdebat dengan murid dari negara bagian lain. Apakah di Indonesia
sistem ini bisa diaplikasikan di sekolah?